SURABAYA – Indikasi adanya penimbunan yang menyebabkan harga kedelai melambung semakin kuat. Dalam sepekan terakhir, polisi menemukan dua perusahaan yang memiliki stok berlimpah bahan baku pembuat tempe tersebut.
Jumat (25/1), Satreskrim Polwiltabes Surabaya menemukan 13 ribu ton kedelai di gudang milik PT Cargill Indonesia di Dupak Rukun. Sebenarnya, perusahaan yang berkantor di Jakarta itu mengimpor 27 ribu ton kedelai dari Amerika Serikat (AS) pada November lalu. Namun, 9 ribu ton sudah didistribusikan.
Kemarin (28/1), giliran Polres Sidoarjo dan Polwiltabes Surabaya menggerebek gudang PT Gerbang Cahaya Utama (GCU) di Jalan Raya Kletek 196-197, Sidoarjo. Stok perusahaan itu hampir dua kali lipat dibandingkan PT Cargill, yakni 50 ribu ton kedelai. Selain menyimpan stok dengan menyewa gudang di Jalan Raya Kletek, PT GCU menempatkan sebagian kedelai impor tersebut di sebuah gudang di Jalan Tanjung Batu, Tanjung Perak.
“Di sini (Raya Kletek), PT GCU memiliki stok 27,3 ribu ton kedelai. Sisanya, 22,7 ton disimpan di kawasan Tanjung Perak,” kata Kapolwiltabes Surabaya Kombespol Anang Iskandar ketika meninjau gudang PT GCU kemarin.
Saat berkunjung ke gudang tersebut, dia didampingi Kabag Bina Mitra AKBP Sri Setyo Rahayu dan Kapolres Sidoarjo AKBP Adnas.
Menurut versi polisi, 50 ribu ton kedelai milik PT GCU tersebut juga didatangkan dari AS pada 3 Desember 2007. Namun, hampir tiga bulan diimpor, kedelai itu sama sekali belum didistribusikan ke masyarakat. Hal itu menguatkan dugaan bahwa perusahaan tersebut melakukan penimbunan agar harga kedelai melambung tinggi.